Bappeda Kukar Fokus Maksimalkan Pelayanan Dasar, Meski Dana Transfer Daerah Alami Pengurangan
Kabid Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Daerah Bappeda Kukar, Saiful Bahri
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutai
Kartanegara (Kukar) terus memaksimalkan pelayanan dasar masyarakat di tengah
berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat, pada 2026 mendatang.
Kondisi ini menjadi
tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menjaga kualitas pembangunan,
terutama di sektor-sektor krusial seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur
dasar, serta pelayanan publik lainnya.
Plt Kepala Bappeda Sy.
Vanesa Vilna melalui Kabid Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Daerah
Bappeda Kukar, Saiful Bahri mengatakan, penurunan transfer ke daerah memaksa
pemerintah daerah lebih kreatif dalam memprioritaskan program.
Menurutnya, kebutuhan
masyarakat harus tetap menjadi fokus utama, sehingga penyusunan anggaran
dilakukan dengan pendekatan yang lebih selektif dan efisien.
“Pengurangan dana transfer
tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan. Justru ini
momentum bagi kita untuk memperkuat perencanaan, memastikan setiap program
benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat,” jelas Saiful Bahri pada
Poskotakaltimnews, di ruang kerjanya, Senin (24/11/2025).
Ia menyebutkan, sektor
pendidikan dan kesehatan tetap menjadi prioritas karena langsung bersinggungan
dengan kualitas hidup masyarakat.
Dalam situasi fiskal yang
menantang, pemerintah daerah dituntut untuk menghindari program yang tidak
strategis dan lebih fokus pada kegiatan yang memberikan dampak luas.
Selain itu, ia menekankan
perlunya memperkuat koordinasi antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar
program pembangunan berjalan sinergis.
Menurutnya, efisiensi
anggaran tidak hanya dilakukan melalui pemangkasan, tetapi juga dengan
memastikan setiap OPD bergerak searah dalam mencapai target pembangunan daerah.
Bappeda Kukar juga
mendorong agar OPD lebih aktif melakukan inovasi pelayanan publik. Dalam
beberapa tahun terakhir, sejumlah layanan dasar sudah mulai mengadopsi
digitalisasi, sehingga upaya meningkatkan efisiensi dapat terus dilanjutkan
tanpa mengurangi akses masyarakat.
Di sisi lain, kondisi ini
turut mendorong pemerintah daerah untuk mencari sumber-sumber pendanaan
alternatif, baik melalui kerja sama dengan pihak swasta, optimalisasi
pendapatan asli daerah, maupun skema pendanaan lain yang memungkinkan
percepatan pembangunan.
Ia menegaskan, Bappeda
Kukar tengah memperkuat sistem monitoring dan evaluasi untuk memastikan setiap
rupiah anggaran menghasilkan manfaat maksimal.
“Kami tidak ingin ada
program yang berjalan tanpa hasil yang jelas. Dengan anggaran yang terbatas,
efektivitas menjadi kunci utama,” ujarnya.
Dengan strategi tersebut,
Bappeda Kukar berharap pelayanan dasar masyarakat tetap terpenuhi dan
pembangunan daerah dapat berjalan berkelanjutan meskipun tantangan fiskal
semakin berat. Pemerintah daerah berkomitmen memastikan bahwa kebutuhan
masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah pembangunan.
(Adv/riz)